Memperjuangkan Eksistensi Otentik

Selasa, 05 Juni 2012


Memperjuangkan Eksistensi Otentik;
Panggilan Menjadi Diri Sendiri
Oleh : Taufik Nurrohim[1]
Who Am I ....???
Setiap orang dalam relung hatinya yang terdalam pasti pernah mengalami berbagai pergulatan mengenai hidupnya; cintanya, pekerjaanya, keluarganya, aspirasinya atau cita-citanya, dan sebagainya. Pergolakan pribadi dapat dengan mudah  membuat orang memusatkan perhatian pada gejolak-gejolak hatinya, harapan dan kekecewaanya, dan apa yang harus dilakukanya dalam waktu dekat demi masa depan. Ruang batinnya menjadi ajang pertempuran berbagai gagasan dan pertimbangan yang tidak jarang sangat mendera hati. Hidup adalah sebuah rangkaian pilihan, membuat keputusan dan menjalankanya adalah suatu kiniscayaan yang tak bisa ditolak oleh manusia, namun apa yang orang butuhkan adalah memberi makna pada dirinya dengan setiap pilihan yang dia buat, seseorang harus hidup tanpa membohongi dirinya sendiri. untuk hidup seseorang harus memilih dan mengambil konsekuensinya.
Di era Reformasi ini, kita sebagai bangsa Indonesia merasa bangga bahwa diri kita bukan subyek kewenangan apa pun dari luar, bahwa kita bebas mengungkap gagasan dan perasaan kita, dan kita anggap kemerdekaan ini merupakan garansi yang nyaris otomatis bagi individualitas kita sebagai manusia. Kebebasan mengungkap pendapat dimuka umum  pun mendapat jaminanya dalam undang-undang. Namun hak untuk mengutarakan pikiran, betapapun juga akan ada artinya bila kita mampu memilki pikiran sendiri; kebebasan dari kewenangan luar hanya bisa bermakna jika kondisi-kondisi kejiwaan kita yang terdalam memiliki wajah tertentu hingga kita dapat menetapkan individualitas kita sendiri. Sudahkan kita gapai sasaran itu, atau setidak-tidaknya sudahkah kita mendekati sasaran itu? Atau kita hanya menjadi konsumen dari opini arus besar yang diproduksi oleh kelas yang berkuasa?
Diera Industri ini, budaya konsumerisme hampir tak bisa lagi kita bendung, kita disuguhkan budaya-budaya yang sebenarnya sangat asing bagi bangsa kita. kondisi-kondisi ekonomis telah meningkatkan keterkecualian dan ketidakberdayaan individu di zaman kita ini; ketidakberdayaan, pada giliranya, memunculkan hasrat untuk melarikan diri, atau bila tidak, membawa kita pada kompromi pada arus besar baik secara pemikiran, budaya dan lain-lain, yang sebenarnya dipaksakan, di mana individu yang terkucil menjadi automaton[2] – mahluk hidup yang bergerak dan berpikir serupa mesin, serba otomatis – individu kehilangan hakikat dirinya sendiri, namun secara sadar ia anggap dirinya bebas dan hanya tunduk pada dirinya sendiri, alias terbenam dalam khayal tentang kejayaan individualitas yang utopis.
Disinilah manusia mengalami kegagalan bereksistensi dan kehilangan otensitas dirinya sebagai manusia. Apa yang ‘asli’ atau ‘orisinal’ di sini bukan berarti belum pernah dipikirkan atau dirasakan oleh orang lain, melainkan pada individu yang bersangkutan, merupakan hasil kegiatanya sendiri, dan dalam arti semacam itu menjadi pikiranya sendiri. Lenyapnya jati diri menjadikan penyesuaian jadi tak terelakan; artinya, orang hanya bisa yakin akan dirinya sendiri bila ia mencocokan diri dengan harapan orang lain, Bila kita abaikan ini, bukan hanya ketidaksetujuan orang lain dan keterpencilan yang kita sedang alami kita pun pasti menghadapi risiko kehilangan jatidiri kepribadian kita, yang sama maknanya dengan mempertaruhkan kewarasan kita.
Pencarian eksistensi manusia yang otentik telah dilakukan secara intens oleh kaum eksistensialis sejak kemunculanya yang pertama kali, dua abad yang lalu, diantaranya yaitu Søren Aabye Kierkegaard (1813-1855) dan Jean Paul Sartre (1905-1980), mereka sangat menekankan aspek individu dalam filsafatnya. Pemikiran mereka juga menjadi cikal bakal lahirnya aliran psikologi eksistensialis, Dalam tulisan ini saya akan membahas proses menjadi diri sendiri dan menjadi manusia yang otentik menurut pemikiran kedua filsuf tersebut.
Dalam tesisnya yang ke XI mengenai Feuerbach Karl Marx mengatakan, “Para filsuf hanya menafsirkan dunia dengan cara yang berbeda-beda; padahal, yang penting adalah mengubahnya.”[3] Yang harus diubah menurut Marx, adalah realitas sosial, khususnya struktur-struktur politik dan ekonomi yang membuat manusia terasing dari dirinya sendiri. Tesis marx ini dapat diubah menjadi tesis Kierkegaard hanya denagan memberi referensi dan makna baru pada obyek ’nya’ dalam kata ‘mengubahnya’.
Yang harus diubah, menurut Kierkegaard, bukanlah realiatas sosial (yang berada di luar diri manusia), melainkan diri sendiri (oneself). Orang tidak perlu terburu-buru ingin mengubah realitas sosial lingkungan hidupnya, melainkan harus mencari jati dirinya terlebih dahulu. Barangkali diri kitalah bagian dari persoalan itu, atau jangan-jangan justru kitalah bagian dari realitas sosial yang harus diubah! Maka dalam hal ini refleksi diri dan proses pencarian untuk menjadi diri sendiri menjadi sangat penting[4].
Gagasan pokok Kierkegaard yakni mengenai manusia dan perjuangannya mencari jati diri. Keberadaan manusia di dunia ini selalu ditantang untuk memilih dan mengambil keputusan. Melalui keputusan yang diambil dan komitmen yang diberikan atas keputusan itu, orang menjadi dirinya sendiri. Uraian Kiekergaard menyadarkan kita bahwa menjadi otentik (asli), menjadi diri sendiri atau dalam bahasa psikologinya integral, merupakan proses yang sangat penting. Keselarasan antara apa yang diyakini dengan apa yang dihayati sehari-hari dalam tindakan, sangat jarang ditemui pada zaman ini.
Membuat keputusan yang baik dan menjalankannya sering tidak mudah. Namun, justru di situlah keaslian kita sebagai manusia diuji. Pemikiran Kierkegaard mengajak Anda berefleksi tentang keaslian itu. Membuat pilihan dan mengambil keputusan bukan hal yang mudah. Keharusan untuk memilih dan memutuskan persoalan, apalagi yang berat dan sulit, sering mengundang penderitaan. Ketidaklengkapan informasi kerap membuat manusia merasa cemas. Jangan-jangan ia salah pilih, terlebih bila pilihan itu bukan antara yang baik dan jahat, melainkan antara dua hal baik.
Bagi Sartre, hakikat manusia adalah hidup untuk diri sendiri. Manusia ada pertama kali sebagai benda, namun kemudian menjadi manusia ketika ia secara bebas memilih moralitas yang diinginkanya. Dengan kebebasan untuk menentukan menjadi manusia seperti ini atau itu, dengan kebebasan memilih benda-benda maupun nilai-nilai untuk dirinya sendiri, ia akan membentuk “hakikat” nya sendiri. Dalam bahasa Sartre, Manusia bukanlah sesuatu yang lain kecuali bahwa ia menciptakan dirinya sendiri.
Manusia sepenuhnya milik dirinya sendiri, sehingga ia harus memutuskan sendiri pula dan harus memilih sendiri bebas. “We are condemned to be free”, kata Sartre. Ungkapan Sartre ini sebenarnya paradoksial sebab condemned (dihukum) berlawanan dengan free (bebas). Walaupun begitu, apabila kita mau merenung jauh, benar juga kata Sartre. Kita tidak bebas untuk bertindak bebas. Maksudnya, kebebasan merupakan nasib kita yang tak terhindarkan. Merdeka, sebab kita manusia.
Bagi Sartre, orang lain boleh menasehati, mereka boleh menunjukan bagaimana cara terbaik untuk menjalani hidup, namun  tidak satupun dari mereka bisa menunjukkan kekuasaanya. Setiap orang menjadi juri tertinggi moralitas, setiap orang adalah penemu nilai. Keren, kan? Sartre memusatkan eksistensi pada tindakan manusia. Beberapa tanya jawab berikut bisa menggambarkan pemikiran Sartre.
Apa yang dimaksud dengan tindakan sendiri?
Dalam satu kata, “Pilihan”, ujar Sartre
Apa yang dimaksud pilihan?
Sartre menjawab, “sesuatu yang menyebabkan kita bertanggungjawab”.
Beratnggungjawab kepada siapa?
“Bertanggungjawab kepada diri sendiri” jawab Sartre[5]
Jawaban terakhirnya mendapatkan kritikan dari kalangan agamawan, karena secara tersirat Sartre menganggap dirinya Tuhan.Walau bagaimanapun, kita juga harus berterimakasih terhadap Kierkegaard dan Sartre karena mereka menekankan arti tanggungjawab dalam menjalani kehidupan yang absurd ini. Kedua-duanya adalah filsuf eksistensialisme. Mereka mengajari kita bagaimana hidup sebagaimana diri kita sebenarnya. Kita selalu memilih dalam menjalani hidup, lalu kita harus berkomitmen, kita bertanggung jawab atas segala konsekuensi atas pilihan itu. Secara garis besar Kierkegaard dan Sartre mengajari tema yang sama yaitu proses memperjuangkan eksistensi manusia yang otentik.


[1] Penulis adalah mahasiswa psikologi UIN Sunan Gunung Djati angkatan 2008, penulis pernah aktif sebagai Sekretaris Umum SMF Psikologi Periode 2010-2011, penulis juga aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Kota Bandung
[2] Erich Fromm, “Mendidik Si Automaton”, dalam  Menggugat Pendidikan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Hlm. 343-344
[3] Karl Marx, “Theses on Feuerbach,” dalam Karl Marx and Fredeich Engels, selected works, vol. 2 (Moscow; Foreign Languages Publishing House, 1962) Hlm.405.
[4] Hidya Tjaya, Thomas, Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri, Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2004. Hlm.153-154.
[5] Fauz Noor, Tapak Sabda, Yogyakarta, Pustaka Sastra LKIS, 2004. Hlm 406-412
Baca Lanjut Bro..

Kau Ku Kejar, Kau Ku Lepaskan

Kamis, 24 Mei 2012


Kau Ku Kejar, Kau Ku Lepaskan ;
Tragedi di balik Drama Eksistensi Manusia
(Tafau’l kepada Søren Aabye Kierkegaard)
Oleh : Taufik Nurrohim[1]        
Prolog :
Regina Olsen – Saya pertama kali melihatnya di Rodams. ...sebelum ayah saya meninggal, saya sudah memutuskan untuk mengejarnya... Tanggal 8 September (1840) saya meninggalkan rumah dengan tekad bulat untuk menyelesaikan masalah ini. Kami bertemu di jalan di luar rumahnya. Ia mengatakan tidak ada orang di rumah. Bodohnya, saya menganggap perkataan itu sebagai undangan ; kesempatan yang saya inginkan. Saya masuk rumah bersamanya. Kami berdiri di ruangan tengah. Ia agak gelisah. Saya memintanya bermain musik seperti  biasa ia lakukan. Ia pun memainkanya, tetapi hal itu tidak menolong saya. Tiba-tiba saya menarik partitur itu dan menutupnya-dengan kasar-melemparkanya ke atas piano, dan berkata, “Oh, persetan dengan musik sekarang! Engkaulah yang saya cari selama ini, engkaulah yang saya dambakan selama dua tahun.” Ia terdiam. Saya pun tidak melakukan apa-apa untuk menarik hatinya ; saya bahkan memperingatkanya mengenai diri saya, mengenai sikap melankoli saya. Tetapi ketika ia berbicara mengenai schiegel (pria yang akhirnya menikah dengan Regina-pen), saya berkata, “ Biarlah hubungan itu menjadi sekedar tanda kurung saja ; bagaimanapun juga, prioritasnya adalah saya.” Ia tetap terdiam. Akhirnya saya pergi karena khawatir jangan-jangan ada orang yang datang dan mendapati kami berdua-duaan, dan ia begitu gelisah. Saya langsung mendatangi Etatsraad Olsen (“konselor Negara” Olsen ayah Regina-pen.) ... takut kunjungan saya itu menimbulkan kesalahpahaman dan bahkan dapat mencemarkan nama baiknya. Ayah Regina tidak mengatakan ya atau tidak, tetapi ia kelihatanya cukup berkehendak, seperti dapat saya lihat. Saya minta diadakan pertemuan : permintaan saya dikabulkan, dan waktunya adalah tanggal 10 sore hari. Saya tidak mengatakan sepatah katapun untuk membujuk Regina. Ia mengatakan, Ya.[2]
Kierkegaard yang bernama lengkap Søren Aabye Kierkegaard lahir di Kopenhagen (Denmark) pada tanggal 5 Mei 1813. Ayahnya adalah seorang pendeta yang tampil saleh dan tergolong sebagai orang yang kaya. Dengan ayahnya, Kierkegaard mempunyai hubungan yang sangat dekat. Mereka sering bermain dan melalui permainan ini Kierkegaard mengaku mendapat modal yang kuat dalam mengembangkan imajinasinya.
Masa kehidupan Kiekegaard adalah masa ketika hampir seluruh orang di Eropa beragama Kristen. Orang menjadi Kristen terutama karena mengikuti arus. Mereka terlahir dalam keluarga Kristen dan di sekolah juga mendapat pelajaran mengenai aturan-aturan Kristen. Mereka menganut agama Kristen tanpa membuat keputusan yang didahului oleh pertimbangan yang matang. Maka masyarakat melakukan ritual agama tanpa secara kritis mempertanyakan kebenarannya.
Namun kehidupan filsuf melankolis ini ternyata sangat menarik, terutama kisah cinta nya dengan seorang gadis cantik yang bernama Regina Olsen. Sebagaimana prolog di atas Kiekegaard mempunyai sifat kerasnya yang sangat menonjol, karena ia ingin sekali segera mendapatkan kejelasan bahwa Regina juga mencintainya dan menerima lamaranya. Layaknya kebanyakan orang, ia tidak senang hidup dalam kebimbangan dan ketidakpastian, apalagi dalam soal yang sangat menentukan masa depanya ini.
Adakah Rasionalitas di balik pengalaman?                      
Jauh di kedalaman relung hatinya semua manusia menginginkan hidup bersama dengan orang yang dicintainya. Melalui kehidupan bersama itu manusia berharap untuk mendapatkan kebahagiaan dan makna hidup mereka. Tak terkecuali, Søren Kierkegaard seorang filsuf melankolis ini. Tetapi, jarang sekali orang secara kritis bertanya apakah ada rasionalitas di balik fenomena eksistensial seperti ‘jatuh cinta’.?
Ilustrasi Drama Eksistensi Manusia :
Sari mencintai seorang lelaki bernama ahmad yang baru dikenalnya seminggu setelah putus dari mantan pacarnya yang bernama fika. Sari merasa  gelisah dan ragu bahwa Ahmad adalah pasanganya yang serasi dan akan memberikanya kebahagiaan di masa depan. Sari pun meragukan bahwa perkawinan mereka adalah sebuah kehendak Tuhan yang sudah digariskan-Nya di surga.
Benarkah demikian? Bagaimana seandainya Sari jauh dalam relung hati jatuh cinta pada seorang fika, seorang laki-laki yang menjadi cinta pertamanya. Adakah keharusan (necessity) bahwa Sari harus berpasangan dengan Ahmad? Dengan kata lain, adakah rasionalitas di balik pertemuan Sari dan Ahmad yang baru di kenalnya? Ataukah pengalaman jatuh cinta seperti ini di pengaruhi oleh faktor-faktor organis-eksternal yang tidak dapat dijelaskan secara rasional? Kalau Sari merasakan ketidakcocokan yang sangat hakiki dengan ahmad ketika pernikahan sudah diambang pintu, apa yang harus ia lakukan? Apabila Sari nekad melanjutkan pernikahanya dengan Ahmad, dikarenakan malu membatalkan pernikahan yang sudah terlanjur diketahui publik. Apakah perkawinan mereka akan penuh kepalsuan dengan kebahagian artifisial yang diciptakan melalui selebrasi ritual pernikahan semu?
Mari kita simak kutipan berikut yang merupakan  kisah Søren Kierkegaard dari catatan harianya, masih pada tanggal yang sama :
Akan tetapi dalam batin hari berikutnya, saya menyadari bahwa saya telah melakukan langkah yang keliru. Seorang yang sedang bertobat seperti saya ini, kehidupan masa lalu saya (vita ante acta), sifat melankoli saya, semua ini sudah cukup. Saya luar biasa menderita pada waktu itu. Regina kelihatanya tidak menyadarinya. Sebaliknya, semangatnya begitu luarbiasa, sehingga suatu kali ia berkata bahwa ia menerima saya karena belas-kasihan. Pendek kata, saya tidak pernah menemukan semangat yang begitu luarbiasa[3].
Søren Kierkegaard menyadari keburukan sifat-sifatnya dan kehidupan masa lalunya yang begitu kompleks. Ia sadar tidak pantas untuk meminang Regina, meskipun ia sangat mencintainya. Kalau demikian, apa yang harus ia lakukan? Meneruskan pernikahanya yang sudah direncanakan atau memutuskan pertunangan yang sudah dilangsungkan? Atas dasar apakah ia harus mengambil keputusan? Filsafat atau Agama, barangkali?
Membuat pilihan dan mengambil keputusan bukanlah hal yang mudah. Keharusan untuk memilih dan memutuskan persoalan yang berat dan kompleks sering kali mengundang gejolak jiwa dan penderitaan (agony). Keterbatasan manusia dalam mengetahui dan memahami realitas seringkali membuat manusia merasa cemas jangan-jangan ia salah memilih, terlebih apabila pilihan itu bukan antara pilihan yang baik dan yang jahat, melainkan antara dua kebaikan. Bagi Kierkegaard, itulah drama eksistensi manusia.
Manusia mengalami konflik yang mendalam ketika harus memutuskan salah satu diantara dua pilihan kebaikan. Pilhan sulit diantara dua plihan kebaikan biasanya melahirkan pahlawan tragis (tragic hero). Bagi Søren Kierkegaard, manusia adalah pengada yang selalu ditantang untuk memilih dan mengambil keputusan dalam pergulatan hidupnya.
Regina Olsen (1822-1904), el gran amor de Kierkegaard
Kembali kepada catatan harianya ia menuliskan seklumit perasaannya :
“… dan kegelisahan yang begitu parah ini, ya Tuhan – dimana aku ingin meyakinkan diriku sendiri setiap saat bahwa aku masih selalu mungkin untuk kembali padanya – akankah aku berani menghadapi gelisahku ini? Sangat sesak rasanya; harapan akhirku akan hidup telah kugantungkan padanya, sementara kini ku harus melucuti harapan itu dari diriku. Sungguh asing bagiku. Aku tak pernah berpikir sungguh soal perkawinan, namun ku tak pernah percaya jika harus berakhir dengan cara seperti ini lalu meninggalkan luka yang begitu dalam.
Dulu aku selalu menertawai orang-orang yang membicarakan kekuatan perempuan, sekarang pun masih demikian. Namun untuk sang dara nan cantik serta pengungkap segala rasa ini, sang dara yang selalu mencintai dengan segenap pikir dan hatinya, sang dara yang sungguh sangat berkorban, sungguh sangat membela - betapa seringnya aku begitu takluk dalam kedekatan. Hingga aku hampir saja menaruh cintanya mendekati api. Memang bukan cinta yang penuh dosa, namun aku butuh untuk sekedar berkata padanya bahwa aku mencintainya.
Segalanya seperti telah ditetapkan untuk mengakhiri masa mudaku. Namun kemudian ku sadar bahwa ini mungkin tak baik baginya. Aku mungkin saja menghambur badai di atas kepalanya, karena dia akan merasa bertanggung jawab atas ajalku (Catt: Kierkegaard merasa bahwa hidupnya singkat, ia akan mati muda).
Aku lebih suka pada yang kulakukan ini. Hubunganku dengannya selalu menjadi kegamangan, aku bahkan bisa memberi penafsiran apa saja atas hubungan itu, sesukaku. Aku telah menafsirkannya dengan memandang aku sebagai pendusta. Berbicara secara manusiawi, inilah jalan terbaik satu-satunya bagi Regina, demi ketenangan jiwanya.
Dosaku adalah bahwa aku tak memiliki iman, bahwa bagi Allah tiada yang mustahil dan bahwa ada tapal batas antara hal tersebut dengan mencobai Allah. Namun dosaku bukan dan selamanya bukanlah karena aku tidak mencintainya.
Andai saja dia tidak begitu berkorban untukku, andai saja dia tidak begitu mempercayaiku dan tidak berhenti untuk hidup bagi dirinya sendiri demi hidup buatku – maka semuanya kegelisaan itu tidak akan terlalu berarti. Aku tidak akan terganggu untuk melakukan kekonyolan di dunia dengan tetap bersamanya. Namun tidak untuk menipu gadis muda ini – oh, jika aku berani untuk kembali lagi padanya.
Inilah jalan yang kuambil. Bahkan andai dia tidak percaya kalau aku telah salah dalam hal ini, dia tentu percaya bahwa aku memiliki kehendak bebas untuk tidak kembali lagi padanya. Diamlah ya jiwaku, aku akan bertindak tegas sesuai dengan yang kuyakini benar. Aku juga telah menyaksikan apa yang kutulis dalam suratku padanya. Aku tahu suasana hatiku. Namun dalam surat aku tak dapat seketika menghilangkan kesan bahwa aku melihat kata-kataku terlalu keras. Tidak seperti saat aku berbicara langsung…. “[4]
Setelah mengetahui Regina mencintai Kierkegaard  karena belas kasihan dan setelah mengalami gejolak batin yang sangat melelahkan. Pada akhirnya Søren Kierkegaard memutuskan untuk membatalkan perkawinanya dengan Regina Olsen. Ayah regina berkali-kali membujuk Kierkegaard untuk melanjutkan perkawinanya, tapi Kierkegaard sudah memantapkan keputusanya dan tetap bersetia kepada kata hatinya. Bodoh? Beberapa orang mungkin mengatakan demikian. Tapi Kierkegaard telah menunjukkan satu teladan kejujuran hati, meskipun pahit.
Regina akhirnya menikah dengan Friedrich von Schlegel, seorang pegawai pemerintah Denmark. Von Schlegel kemudian diangkat menjadi Gubernur Jendral di Guyana Denmark (jajahan Denmark di Kepulauan Amerika Tengah) dan membawa keluarganya ke sana. Sekembalinya mereka dari Guyana Denmark, Soren Kierkegaard telah meninggal tanpa berumahtangga.
Kembali kepada ilustrasi diatas :
Dalam ilustrasi di atas, misalnya yang Sari tahu adalah perasaan cinta yang sesungguhnya adalah pada Fika sebagai cinta pertamanya. Sebagaimana perasaan-perasaan lainya, memang jelas ada dan bersifat pasti, artinya tidak menipu. Yang tidak pasti adalah keyakinan Sari bahwa Fikalah soulmate-nya. ‘Kebenaran Obyektif’ ini, dalam pandangan Kierkegaard, tidak dapat diketahui oleh manusia. Yang diketahui secara pasti oleh manusia adalah realitas eksistensinya sendiri sebagai seorang pelaku (agent).
Dalam ketidaktahuanya inilah Sari harus mengambil keputusan apakah akan meneruskan hubunganya dengan Ahmad ke jenjang perkawinan atau memilih bersetia kepada subyektifitasnya untuk kembali kepada Fika? Kalau dalam alasan-alasan tertentu ia yakin bahwa Fika adalah soulmate-nya (sebentuk kebenaran subyektif), maka ia harus memilih dan memberikan komitmen serta hidupnya kepada Fika demi meraih kebahagiaan yang sejati. Yang penting di sini bukanlah apakah Fika memang bukan sungguh soulmate-nya, melainkan relasi Sari sendiri (sebagai subyek) dengan kebenaran bahwa Fika adalah pasangan hidupnya yang sejati. Dan akan menjadi sebuah tragedi ketika manusia mengingkari kata hatinya. Begitulah menurut sang filsuf melankolis Søren Kierkegaard.
Bandung, 19 Mei 2012


[1] Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Bandung angkatan 2008
[2] Catatan Harian Søren A. Kierkegaard tanggal 24 Agustus 1849, dalam Thomas Hidya Tjaya Kierkegaard dan pergulatan menjadi diri sendiri (Kepustakaan Populer Gramedia. Jakarta : 2004.) hal 1-2.
[3] Ibid. Hal.3
[4] Journals & Papers of Søren Kierkegaard III A 166, terjemahan dari Risdo simangunsong dalam http://filsafat.kompasiana.com/2011/02/21/ku-cinta-kau-kau-kutinggalkan/
Baca Lanjut Bro..

Proyek Filsafat G.W.F Hegel

Kamis, 15 September 2011

Phenomenologi dan Metode Dialektika (Tesis, Antitesis dan Sintesis)[1]
Georg. Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831)
Oleh : Taufik Nurrohim[2]


“Sejarah bergerak maju secara dialektis menuju kebebasan yang semakin besar dan rasional” G.W.F Hegel

Filsafat yang berpengaruh di Eropa pada abad ke-19 adalah idealisme dari Jerman, khususnya yang dibangun oleh G.W.F Hegel (1770-1831). Idealisme adalah aliran filsafat yang berpendapat bahwa dunia tergantung pada gagasan yang kita bangun, atau merupakan hasil kegiatan kesadaran kita. Immanuel Kant (1724-1804) sudah merintis jalan ke arah pandangan ini ketika ia mengatakan bahwa pengalaman kita mengenai dunia ditentukan oleh struktur akal budi dan kategori pemikiran yang kita miliki. Ini tak ubahnya seperti ketika kita memakai kacamata merah, dan kita mulai melihat segala sesuatu berwarna merah, padahal benda-benda yang kita lihat atau realitas sebenarnya belum tentu berwarna demikian. Inilah dunia “penampakan” (phenomena), dunia pengalaman kita sebagaimana  ditentukan oleh struktur kesadaran kita, yang berlawanan dengan dunia pada dirinya sendiri (noumena).
Akan tetapi, para filsuf idealis sesudah kant, seperti Johann Gottleib Fichte (1762-1814) dan Friedrich Wilhelm Joseph von Schelling (1775-1854) serta G.W.F Hegel menolak adanya dunia-pada-dirinya-sendiri. Mereka mengembangkan filsafat yang berpusat pada dunia kesadaran, yakni kesadaran universal atau diri absolut (absolut self) yang bekerja di alam dan dalam kesadaran manusia individual, serta mencoba mempersatukan keduanya. Tugas filsafat dalam hal ini adalah menjadikan Diri absolut ini eksplisit. Bagi Hegel, hal ini berarti meninjau kembali sejarah filsafat dan pemikiran manusia pada umumnya, guna menunjukan bahwa semua “bentuk kesadaran” kita (form consciousness) sedang berusaha merealisasikan identitas Diri absolut ini.

Hegel : Proses Dialektis dan Perjalanan Roh Absolut
Untuk memahami filsafat Hegel, Pertama-tama kita perlu mengetahui cara Hegel melihat proses pencapaian pengetahuan. Bagi Hegel, pengetahuan tidak diperoleh hanya melalui proses interaksi satu arah dari subyek (manusia yang mengetahui) kepada obyek (yang diketahui), melainkan bersifat timbal-balik (reciprocal), atau dalam istilah Hegel disebut “dialektis”.

Hegel mengawali argumen logikanya dengan asumsi “Yang mutlak adalah Yang-Berada Murni (Pure Being)”; kita mengasumsikan bahwa ini hanya berada (is), tanpa menentukan kualitas apa pun padanya. Namun yang berada murni tanpa kualitas apa pun adalah yang-tiada (Nothing); oleh sebab itu, kita terarah ke antitesis: “Yang mutlak adalah Yang-Tiada.” Dari tesis dan antitesis ini kita berjalan terus ke sintesisnya: penyatuan antara Yang-Berada dan Yang-Tidak-Berada adalah Yang-Menjadi (Becoming), dan dengan demikian kita mengatakan “Yang mutlak adalah Yang-Menjadi.”

Pengetahuan saya mengenai sifat-sifat sahabat baik saya, misalnya, tidak sekedar saya miliki dalam kepala saya (obyek pengetahuan di dalam subyek yang mengetahui), melainkan mengubah dan mempengaruhi cara saya bertindak dan berinteraksi denganya. Apa yang saya ketahui dan saya yang mengetahui itu saling mengembangkan. Dengan demikian, pengetahuan itu tidak akan pernah selesai atau bersifat final. Pengetahuan hari ini mengenai sahabat saya itu akan diperbaharui dan dilengkapi oleh pengetahuan saya mengenainya di waktu-waktu mendatang. Pengetahuan dicapai melalui suatu proses yang terus-menerus terjadi (ongoing process), di mana yang mengetahui (knower) dan yang diketahui (known) saling mempengaruhi dan mengembangkan.

Ditempatkan dalam konteks pengetahuan manusia mengenai realitas, pandangan Hegel ini ingin mengatakan bahwa kebenaran atau pengetahuan sejati tidaklah dapat ditemukan hanya dengan memeriksa situasi atau masa tertentu dalam kehidupan manusia. Pengetahuan sejati sesungguhnya mewujudkan atau memperlihatkan diri hanya melalui proses perkembangan yang terjadi dalam perjalanan sejarah. Maka satu-satunya cara untuk mencapai realitas sejati atau kebenaran adalah dengan menggunakan pendekatan historis atau genetis.
Orang, termasuk filsuf, harus mengamati dengan cermat ke arah mana gerak sejarah manusia. Melalui pendekatan historis atau genetis ini Hegel memperlihatkan bahwa perkembangan yang terjadi sampai tahap tertentu merupakan hasil yang ‘harus terjadi’ (necessary) dari segala konflik dan perbedaan serta koreksi-koreksi yang terjadi sebelumnya. Perang dan Revolusi dalam sejarah manusia, misalnya tidak terjadi tanpa alasan, melainkan memiliki tujuan tertentu, yakni membuat manusia semakin mengenal diri dan realitas kehidupanya, dan akhirnya memperoleh pengetahuan absolut.

Hegel mengatakan bahwa proses perealisasian Roh itu berlangsung dalam tiga momen besar. Momen pertama adalah Roh Subjektif yang terdiri dari antropologi atau jiwa, kesadaran dan psikologi atau pikiran, sementara momen kedua adalah Roh Objektif sebagai Roh yang merealisasikan diri dalam dunia sosial-politis kongkret dalam bentuk hukum abstrak (Abstraktes Recht), moralitas (Moralitat) dan tatanan sosial etis (Sittlichkeit), dan momen ketiga adalah Roh Absolut yang terdiri dari seni, agama dan filsafat. Ketiga momen ini (Roh Subjektif, Roh Objektif dan Roh Absolut) merupakan isi dari keseluruhan sistem filsafat Hegel yang menurut klaim Hegel sendiri telah mencakup dan membahas keseluruhan kenyataan.

Konsep penting yang harus dipahami di sini adalah ‘absolut’ (das Absolute) dan ‘Roh’ (Geist). Kata absolut atau mutlak di sini tidak berarti ‘harus’ atau ‘tidak dapat ditawar-tawar’, melainkan lengkap, penuh dan menyeluruh.  Bagi Hegel, Yang Absolut adalah keseluruhan realitas pada dirinya sendiri, yang dapat diketahui oleh manusia (knowledge reality), ‘Mengenal Yang Absolut’ berarti mengenal realitas yang sebenarnya (jadi bukan hanya persepsi atau gagasan kita saja mengenai realitas itu). Pengetahuan ‘Absolut’ sendiri berarti pengetahuan yang bebas dari bias atau distorsi, menyeluruh, tidak tergantung pada konteks atau kondisi tertentu, dan tanpa inkonsistensi internal. Pada pengetahuan absolut proses dialektis berhenti karena memang pengetahuan ini tidak dapat diatasi atau dilampaui lagi. Pendek kata, pengetahuan absolut merupakan pengetahuan ‘terakhir’ (final) yang bersifat penuh dan menyeluruh.

Keluarga, Masyarakat Warga dan Negara dalam pemikiran G.W.F Hegel
Kendatipun Karl Marx mengkritk filsafat politik Hegel dengan sangat tajam dalam tulisanya yang berjudul kritik der Hegelschen Staatsphilosophie (Kritik Atas Filsafat Negara Hegel), ia tetap mengakui bahwa filsafat hukum dan filsafat politik di Jerman menemukan rumusanya yang paling kaya, paling akhir dan paling mendalam dalam Rechtsphilosophie (Filsafat Hukum) Hegel. Salah satu konsep yang paling sentral dan paling banyak mendapat tanggapan serta merupakan konsep Hegel yang terpenting dalam filsafat hukumnya adalah Sittlichkeit yakni keluarga (die Familie), masyarakat warga (die burgerliche Gesellschaft), dan Negara (der Staat). Sebelum menjelaskan tentang  sittlichkeit, saya akan lebih terlebih dahulu memperlihatkan momen-momen dialektis yang menghasilkan masyarakat warga tersebut.

Tesis : Hukum Abstrak
Hukum abstrak adalah tanda dan pengalaman pertama akan kebebasan. Aktualisasi kebebasan pada momen ini terdapat pada kepemilikan benda-benda (Eigentum). Kepemilikan atas hak milik adalah tanda kebebasan yang paling minimal. Orang bebas menjalankan kehendaknya atas benda-benda yang dimilikinya. Hukum di sini disebut abstrak karena ia hanya terbatas pada kehendak langsung yang bersifat personal dari individu, sementara hukum yang kongkret adalah hukum yang telah terinstitusionalisasi secara sosial-politis, yakni dalam bidang Sittlichkeit.

Antitesis : Moralitas
Dalam moralitas, individu telah tampil sebagai subjek yang mempertahankan otonominya dalam berhadapan dengan dunianya. Kebebasan di sini sudah lebih maju, nyata dan rasional dibandingkan dengan kebebasan dalam hukum abstrak, karena pada momen ini kebebasan tidak lagi bersifat langsung dan abstrak, melainkan telah dimediasi. Yang menjadi mediator dalam kebebasan di sini tentu saja adalah nilai-nilai atau norma-norma terhadapnya orang menentukan sikap.
Di sini sebenarnya Hegel mengikuti (sekaligus kemudian secara dialektis mengkritik) Kant mengenai otonomi moral. Kant telah mendefinisikan kebebasan sebagai otonomi, yakni subjek yang mampu menjadi “pemberi hukum” moral bagi dirinya sendiri dan mentaati hukum yang ditetapkanya itu berdasarkan kehendak bebasnya sendiri. Subjek yang otonom adalah subjek yang bebas.

Sintesis : Sittlichkeit[3] 
Sittlichkeit, dengan demikian, adalah sintesis antara kehendak langsung dalam hukum abstrak dan kehendak subjektif dalam moralitas. Bila pada momen hukum abstrak, kebebasan itu masih bersifat langsung alami dan abstrak serta teraktualisasikan dalam kepemilikan atas benda-benda, sementara pada momen moralitas kebebasan bersifat formal dan subjektif serta teraktualisasikan dalam kemampuan untuk bertindak secara otonom, maka dalam sittlichkeit, kebebasan itu telah konkret dan objektif karena telah terjangkar dalam struktur-struktur sosial yang terrdapat dalam komunitas. Sittlichkeit, dengan demikian, merupakan konteks sesungguhnya di mana individu dapat mencapai dan merealisasikan diri dan kebebasanya dengan baik.

Sittlichkeit dapat dikatakan sebagai totalitas sosial-etis, yang terbentuk dan tersedimentasi dalam perjalanan sejarah sebuah komunitas. Hegel menulis :

 “Dalam masyarakat yang etis, tidak sulit mengatakan apa yang harus dilakukan orang, apa kewajiban yang harus dipenuhinya agar ia berkeutamaan – yang harus dilakukanya tidak lain dari apa yang diajarkan, diungkapkan dan diketahuinya melalui relasinya (dalam masyarakat).”

Keluarga
Keluarga, masyarakat warga dan negara adalah tiga momen Sittlichkeit dalam masyarakat modern. Hegel mengatakan bahwa keluarga adalah bentuk kehidupan etis yang paling dasar dan alami. Tidak ada lagi institusi lain yang mendahului keluarga yang dapat dikatakan sebagai bentuk kehidupan etis. Bahkan keluarga yang paling primitif pada zaman purbakala pun telah mengajarkan nilai-nilai etis tertentu. Melalui pendidikan di dalam keluargalah orang pertama-tama mengenal dan belajar apa itu yang etis. Sebagai momen yang menegasi moralitas, dalam institusi keluarga juga terdapat subjektivitas, misalnya dalam kebebasan memilih pasangan hidup dan dalam keputusan untuk menghasilkan keturunan. Tapi subjektivitas dan kebebasan di sini tertutupi oleh kebersamaan yang didasarkan atas cinta sebagai dasar atau fondasi bagi institusi keluarga.

Dalam keluarga, kata Hegel, orang tidak melihat dirinya sebagai individu partikular yang bebas dengan hak vis-a-vis satu sama lain, melainkan sebagai bagian tak terpisahkan dari sebuah totalitas kebersamaan. Dalam keluarga masing-masing orang selalu memahami dirinya dalam relasinya dengan anggota keluarga lainya, entah sebagai anak, ibu istri atau bapak. Di sini tidak ada tempat bagi individualitas atau egoisme. Sebagai subtansialitas langsung dari Roh, keluarga memiliki kesatuan yang dirasakan menentukan keluarga itu, yakni cinta, sehingga muncul keyakinan berupa kesadaran diri mengenai individualitas dalam kesatuan tersebut, sebagai esensi yang ada pada dan untuk dirinya sendiri, dan karena itu dalam ikatan tersebut ia bukan sebuah Person, melainkan anggota (Mitglied).

Masyarakat Warga
Defisit subjektifitas dalam keluarga menjadi faktor logis pendorong munculnya momen berikutnya, yakni masyarakat warga, karena manusia tidaklah semata-mata merupakan bagian dari sebuah kolektifitas tapi juga individualitas partikular yang memiliki subjektifitasnya masing-masing. Masyarakat warga adalah “kerajaan kebebasan” di mana individu-individu yang telah meninggalkan wilayah keluarga bertemu satu sama lain berdasarkan dorongan kepentingan subjektifnya. Dalam momen masyarakat warga, kebersamaan absen dan digantikan oleh kepentingan partikular subjektif.

Orang berdagang di pasar bukan karena ia mau memenuhi kebutuhan subjektifnya sendiri. Pembeli pun demikian. Pembeli membeli barang yang ditawarkan pedagang bukan karena ia mau menolong pedagang, melainkan karena ia harus memenuhi kebutuhan subjektifnya sendiri. Dalam masyarakat warga, kata Hegel, setiap orang menjadikan dirinya sebagai tujuan, orang lain tidak berarti apa-apa baginya kecuali sebagai sarana bagi pemuasan kebutuhan subjektifnya. Demikianlah, setiap orang menjadikan setiap orang lainya sebagai sarana bagi pemuasan kebutuhanya, sehingga terciptalah “sebuah sistem interdepedensi yang komplet”.

Negara
“Karena Kebenaran adalah kesatuan dari Kehendak universal dan subyektif; dan yang Universal harus ditemukan dalam Negara, dalam hukum-hukumnya, dalam bentuknya yang universal dan rasional. Negara adalah Roh Tuhan yang ada di atas Bumi” Hegel, Philosophy Of History

Di sini kita dapat memilih nilai positif dan negatif yang terkandung dalam kedua momen sebelumnya. Dalam keluarga terdapat kebersamaan atau kolektivitas tapi subjektifitas tidak ada. Sebaliknya, dalam masyarakat warga  terdapat subjektifitas tapi kolektifitas tidak ada. Dan masyarakat tentu tidak dapat bertahan bila setiap anggotanya mengejar kepentingan subjektifnya sendiri dengan saling menjadikan semua yang lain sebagai sarana. Egoisme dan subjektifitas seperti ini tentu tidak mungkin dijadikan dasar hidup bersama. Di sinilah negara muncul, sebagai sintesis yang mentranformasi secara dialektis unsur-unsur positif yang terdapat dalam kedua momen sebelumnya.

Unsur positif dalam keluarga adalah kesatuan organis yang menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi, sementara unsur negatifnya adalah belum adanya kesadaran akan subjektivitas yang rasional. Unsur positif dalam masyarakat warga adalah subjektifitas sebagai individu yang mandiri, sedangkan unsur negatifnya adalah sikap liberal individual yang cenderung anarkis. Dalam negara, tentu yang dimaksud di sini adalah negara organis dan modern ala Hegel. Elemen-elemen positif dalam keluarga dan masyarakat warga dipertahankan dan diangkat ke level yang lebih tinggi : prinsip keluarga, yakni universalitas dijunjung tapi sekaligus prinsip masyarakat warga, yakni partikularitas didorong untuk berkembang sepenuhnya.
Tentang negara, Hegel menulis :

“Esensi negara modern adalah bahwa yang universal terjalin dengan kebebasan penuh para anggota partikularnya dan dengan kesejahteraan individu, juga bahwa kepentingan keluarga dan masyarakat warga harus tersimpul di dalam negara ... (Dengan demikian) yang universal harus dijalankan, tapi di sisi lain, subyektivitas juga menjadi berkembang secara penuh dan hidup. Hanya bila kedua momen itu berlangsung dalam kepenuhanyalah maka negara dapat dipandang telah diorganisasikan dan ditata secara benar”.

Pada bagian lain ia menambahakan :

“Prinsip negara modern memiliki kedalaman dan kekuatan luar biasa, yakni ia mendukung prinsip subjektifitas berkembang hingga partikularitas personal mencapai kemandirian yang ekstrim, tapi sekaligus ia menariknya ke kesatuan subtansial, dan dengan demikian kesatuan tersebut tetap berada dalam kerangka subjektifitas”.

Konsep kunci dalam skema dialektika Hegel : Universalitas (U) adalah tesis, Partikularitas (P) antitesis, Individualitas (I) sintesis. Setiap momen dialektis selalu diawali secara konseptual dengan (U) yang kemudian mengalami antitesis atau negasi, yakni (P), dan pada akhirnya tersintesakan dalam (I). Universalitas berarti kesatuan  yang belum terdiferensiasi, sementara Partikularitas diferensiasi atau perbedaan yang muncul dari (U), sedangkan Individualitas adalah sintesis dari keduanya, yakni yang telah menyatukan baik kesatuan maupun perbedaan dalam level yang lebih tinggi. Dengan penjelasan yang sangat singkat ini, maka secara konseptual kita dapat mengatakan keluarga sebagai Universalitas, masyarakat warga sebagai Partikularitas, sedangkan negara (sebagai sintesis dari keduanya) sebagai Individualitas.

Daftar Bacaan                       :
  • Budi Hardiman, F. Kritik Ideologi, Yogyakarta: Kanisius, 1989
  • Budi Hardiman, F. Filsafat Fragmentaris, Yogyakarta: Kanisius, 2007
  • Budi Hardiman, F. Ruang Publik, Yogyakarta: Kanisius, 2010
  • Hegel, G. W. F., Filsafat Sejarah, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002
  • Henry J.Schmandt, Filsafat Politik, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2002
  • Hidya Tjaya, Thomas, Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri, Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2004
  • Russell, Bertrand. Sejarah Filsafat Barat, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002
  • Schacht, Richard, Alienasi: Yogyakarta, Jalasutra, 2005

[1] Makalah ini disampaikan diacara Program Studi Epistemologi (Filsafat Ilmu) Rumah Indonesia, Jakarta 

[2] Penulis adalah mahasiswa psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung angkatan 2008

[3] Secara sederhana, istilah Sittlichkeit dapat didefinisikan sebagai keseluruhan tatanan sosial-politik yang mewujudkan secara kongkret keseluruhan nilai-nilai moral hukum, aturan-aturan konvensional, cita-cita dan kehendak warga negara atau secara singkat “tatanan sosial-politik etis”.




Baca Lanjut Bro..

John Lennon, Revolution, Rock And Roll


Oleh : Taufik Nurrohim

Mari, tumbuh tua bersamaku. Dua cabang, satu pohon, menatap matahari surut ketika hari selesai. Berkat Tuhan buat cinta kita. (John Lennon)


 Digemerlap kehidupan malam menjelang sahur, dipojok kamar aku terduduk dan termenung meratapi kehidupan, sepi... sunyi... dan dingin menemaniku, perlahan-lahan kubunuh sepi, kunyalakan radio sambil berharap menemukan lagu clasic rock yang dapat menentramkan jiwa, kususuri chanel demi chanel, saat sampai pada titik saluran radio tertentu hatiku tersentak... terdengar lantunan suara merdu dari sang legendaris John Lenon vokalis The Beatle yang menyanyikan lagu yang berjudul “Revolution”. Kunikmati, kupahami bait demi bait dari syair yang dinyanyikan John Lenon. Serentak aku teringat tentang satu kata yaitu REVOLUSI.
Siapa sangka ternyata The Beatle digolongkan sebagai orang-orang kiri. Padahal mereka selama ini hanya dikenal sebagai penyanyi. Itupun barangkali hanya di komunitas penggemar rock. Setidaknya itu yang ditulis buku Menjadi Kiri itu Seksi terbitan Penerbit Alinea Yogyakarta. Munculnya rock memang tidak bisa dipisahkan dari kritik sosial maupun politik. Pilihan kelompok musik ini bisa berupa lirik, gaya pakaian, maupun keterlibatan langsung dalam gerakan-gerakan politik. Pada 1960-an kelompok musik rock dengan gaya rambut yang khas, celana jeans ketat, pro drugs, dan lirik-lirik bertema cinta muncul sebagai protes karena perang Vietnam.
Tembang “Revolution” ini, diciptakan dalam 2 versi, yakni versi slow dan versi cepat (keras). Lagu anti perang ini diciptakan The Beatles pada masa Amerika Serikat dipimpin oleh Presiden Nixon, saat itu the Beatles menulisnya di kamp meditasi transendental di India milik sang Maha Guru mereka “Maharishi”. Sebagian pengamat menganggap lagu ini merupakan respon The Beatles terhadap perang yang terjadi di vietnam (perang Vietnam).
Pada tahun 1968 awal, dunia diramaikan dengan gerakan protes terhadap perang Vietnam , terutama di kalangan mahasiswa. Protes paling umum di AS, pada tanggal 17 Maret beberapa ribu demonstran berbaris didepan Kedutaan Amerika, di London terjadi bentrokan keras demonstran dengan polisi. Di Polandia terjadi demonstrasi besar-besaran melawan pemerintah mereka yang menganut ideologi komunis, dan pemberontakan kampus dari Mei 1968 di Perancis . Mereka pernah mengembalikan Gelar Kebangsawanan yang dianugrahkan oleh Ratu Inggris sebagai protes atas dukungan Inggris terhadap Perang Vietnam. John Lennon pernah menyindir langsung Ratu dan gaya hidup wanita bangsawan istana dalam lagu twist and shout.
Awalnya The Beatles diminta para pemrotes anti perang untuk turut menyuarakan perdamaian, dan anti pemerintahan/rezim penindas rakyat. Namun pada akhirnya, The Beatles sendiri balik menyaksikan, bagaimana para pemrotes itu sendiri yang bertindak brutal, tidak ubahnya seperti tindakan bengis para rezim dan pemerintahan yang mereka protes, seperti halnya pemerintahan Mao Zedong. Menurut sebagian pengamat lagu ini juga ditunjukan untuk memprotes Mao Zedong. Sebuah protes anti pemerintahan tirani yang dilakukan juga dengan cara-cara “tirani” lainnya. Bagi The Beatles, Revolusi yang dikendalikan dengan mental demikian bukanlah sebuah bentuk kemajuan masyarakat, namun merupakan bentuk pikiran sempit lainnya, yakni menempatkan kekerasan atas nama perdamaian. Mao dianggap bertanggung jawab atas kematian lebih dari 20 juta rakyatnya. The Beatles tidak menginginkan kekerasan atas nama apapun walaupun revolusi.
Sedangkan McCartney berpolitik lewat lirik ”Back in the U.S.S.R.” yang menyindir hipokrisi dua negeri adidaya, AS yang menghancurkan Vietnam dan Uni Soviet yang menginvasi Cekoslowakia. Dilagu lain yang dinyanyikan secara solo, John Lennon kembali menhentak dunia dengan lagu yang berjudul Imagine. Silakan baca lagi beberapa cupilkan lagu legendaris tersebut.
Imagine there’s no countries it isn’t hard to do
Nothing to kill or die for and no religion too
Imagine all the people living life in peace
Imagine no possession I wonder if you can
No need for greed or hunger a brotherhood of man
Imagine all the people sharing all the world.
Lewat lirik yang kemudian menjadi lagu abadi gerakan perdamaian dunia itu The Beatles mengingatkan bahwa kalau tidak ada negara dan agama, barangkali tidak ada lagi bunuh-bunuhan. Barangkali tidak ada lagi perang. Bahkan kelompok musik itu mengampanyekan inti sosialisme, kepemilikan bersama. Bagaimana kalau tidak usah ada hak milik dan semuanya adalah milik bersama. Dalam lagu ini John Lennon mendapakat banyak kritikan dari para agamawan. dikalangan transpersonal mereka disebut kelompok New Age mereka meyakini agama akan tersingkirkan oleh rock n roll.
Kenyataan akan kebutuhan suatu revolusi, adalah kenyataan yang akan terjadi sepanjang zaman, pada saat sebuah pemerintahan atau dunia jatuh kedalam sistem yang tiran dan menindas. Perlahan namun pasti, bom protes dan pemberontakan masyarakat suatu saat akhirnya akan meledak, dengan berbagai cara manifestasinya. Namun inti dari ajaran The Beatle adalah agama kemanusiaan, segala bentuk perubahan sosial apapun harus berdasarkan kemanusiaan.
WAR IS OVER

Dipojok Kamar, Jam : 02.00 WIB (Menjelang Sahur)
Sabtu, 06 Agustus 2011

Revolution
You say you want a revolution
Well, you know
We all want to change the world
You tell me that it's evolution
Well, you know
We all want to change the world
But when you talk about destruction
Don't you know that you can count me out
Don't you know it's gonna be all right
all right, all right

You say you got a real solution
Well, you know
We'd all love to see the plan
You ask me for a contribution
Well, you know
We're doing what we can
But when you want money
for people with minds that hate
All I can tell is brother you have to wait
Don't you know it's gonna be all right
all right, all right
Ah, ah, ah, ah, ah, ah...

You say you'll change the constitution
Well, you know
We all want to change your head
You tell me it's the institution
Well, you know
You better free you mind instead
But if you go carrying pictures of chairman Mao
You ain't going to make it with anyone anyhow
Don't you know it's gonna be all right
all right, all right
all right, all right, all right
all right, all right, all right


Baca Lanjut Bro..