Photobucket Photobucket Photobucket

Ngeblues

Ngeblues

Pirates

Pirates

Resensi Buku Empai Esai Etika Politik

Kamis, 15 September 2011


Judul Buku : Empat Esai Etika Politik
Penulis : F. Budi Hardiman, Robertus Robet, A. Setyo Wibowo, Thomas Hidya Tjaya, Bagus Takwin (Introduction)
Penerbit : www.srimulyani.net
Tahun Terbit : Februari 2011
ISBN : 978-602-98614-0-2
Ukuran : 14,6 x 21,6cm
Jumlah Halaman : 120 Hlm
Harga : Rp. 40.000,-

Resensi Oleh :
Taufik Nurrohim
Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN SGD Bandung Angkatan 2008

Buku ini merupakan kumpulan dari seri kuliah publik Etika Politik yang diselenggarakan oleh komunitas salihara pada  2010 lalu, yang menyoroti pemikiran Jurgen Habermas, Jacques Ranciere, Albert Camus, dan Emmanuel Levinas. Keempat tokoh ini adalah pemikir-pemikir orisinil yang punya konsep masing-masing tentang etika politik . Sudut pandang, bangunan logika, dan gaya penuturan mereka sangat khas. Dalam pemikiran keempat tokoh ini tentang etika politik yang diwadahi oleh tulisan-tulisan di buku ini membuat kita harus memikirkan kembali makna politik itu sendiri.
Etika Diskursus
Etika Habermas dikenal dengan nama ‘etika diskursus‘ yang dikembangkannya di tahun 80-an, namun di tahun 90-an dia menerapkan etika diskursus itu dalam politik menjadi teori diskursus. Baik dalam etika diskursus maupun teori diskursus Habermas melanjutkan strategi perubahan dari paradigma filsafat subyek ke paradigma intersubyektivitas dengan melontarkan kritiknya atas filsafat praktis Kant.
Untuk memahami apa itu etika diskursus, kita perlu memahami lebih dahulu apa itu diskursus praktis. Kehidupan bersama di dalam sebuah masyarakat membentuk suatu tatanan sosial, jika para anggota masyarakat ini mematuhi norma-norma tertentu yang mengatur prilaku mereka. Tujuan diskursus praktis adalah pemahaman timbal-balik atas norma-norma tindakan yang dipatuhi bersama. Hanya konsensus yang diterima oleh semua peserta secara intersubyektif dan tanpa paksaan dapat dianggap rasional. Prasyarat-prasyarat komunikasi manakah yang harus dipenuhi untuk memperoleh sebuah konsensus rasional yang diterima umum? Jawaban Habermas, diskursus seharusnya bersifat inklusif, egaliter dan bebas-dominasi.
Pemikiran Habermas dengan etika diskursus dan konsep rasio prosedural dapat ditafsirkan sebagai usaha untuk menemukan syrat-syarat dan prosedur menjalankan kehidupan bersama. Dengan konsep itu Habermas tak hendak menentukan “politik yang memadai” atau subtansi dari politik, melainkan mengoperasionalkan relasi “ikut-mengambil-peranan”. Pada intinya pemikiran Habermas sejalan dengan pengertian politik sebagai relasi “ikut-mengambil-peranan” dalam kehidupan bersama, dalam kerangka pikir Habermas, keputusan-keputusan subyek politik secara subtansial tidak ditentukan oleh hal-hal diluar hubungan politik, melainkan ditentukan di dalamnya.
Etika Kesetaraan Radikal
Etika Kesetaraan Radikal adalah etika politik yang digagas Jacques Ranciere, Ranciere memandang politik sebagai sesuatu yang harus didefinisikan tersendiri, tak terpredikasi oleh yang lain, juga oleh kekuasaan. Baginya politik bukan usaha untuk mempertahankan kekuasaan atau pertarungan antara pihak-pihak untuk memperoleh kekuasaan sebesar-besarnya. Politik harus dipahami sebagai mode dari penempatan tindakan ke dalam praktik oleh subyek khusus dan diturunkan dari bentuk nalar tertentu. Politik memanggil orang untuk menjadi subyek, memunculkan dan menampilkan subyektivitasnya. Bukan seseorang atau sekelompok orang yang menentukan poltik.
Bagi Ranciere, mengenali politik sebagai usaha mempertahankan, memperjuangkan, atau memiliki kekuasaan berarti menjauhi politik, dan bagi Ranciere segala sesuatu mengenai politik terkandung dalam hubungan khusus antara orang-orang yang ada didalamnya, yaitu “ikut-mengambil-peranan” (part-taking /avoir part) dalam kehidupan bersama. Hubungan “ikut-mengambil-peranan” ini merupakan inti dari makna dan syarat bagi kemungkinan yang dikandung politik. Hubungan “ikut-mengambil-peranan” ini diturunkan dari aksioma kesetaraan, bahwa manusia setara dan kesteraanya adalah setiap manusia mampu berpikir. Kebersamaan yang terdiri dari individu-individu yang setara harus diatur oleh kebersamaan itu sendiri, bebas dari rezim-rezim di luar kebersamaan itu.
Etika Menghadapi Absurditas
Etika politik Albert Camus yaitu etika menghadapi absurditas, Cara Camus menjelaskan mengenai absurditas (sesuatu yang tanpa alasan dan tanpa tujuan, namun ia hadir begitu saja) melanjutkan intuisi nietzschean tentang realitas mentah dunia ini yang mesti kita terima apa adanya tanpa lari mencari-cari “pegangan” (dalam bentuk ide ide fixed entah itu Tuhan atau being itself). Etika politik albert camus ini bisa kita temukan dalam karyanya yaitu roman Albert Camus berjudul La peste (Sampar) berkisah tentang peristiwa luar biasa yang menghantam penduduk kota Oran. Lewat kisah ini, Camus menggambarkan macam-macam sikap manusia di depan wabah sampar.
Politik dalam presfektif Camus sepertinya bisa dipahami sebagai ikhtiar bersama-sama melawan “Yang Bathil” dan bertempur di sisi korban tanpa berharap akan kemenangan absolut. Meski perlawanan dan pemberontakan yang diserukan Camus pada dasarnya ia memandang keberadaan manusia lain sebagai hal yang positif dan secara tersirat ia memandang bahwa kehidupan bersama adalah ajang keterlibatan kongkret untuk membela para korban membela manusia lain meskipun tujuan akhir itu tidak ada. Baginya yang penting itu adalah bertindak dan bertanggungjawab atas penderitaan yang ada di dunia itulah cara manusia mengisi hidup.
Dari sini kita bisa menemukan implikasi lebih jauh dalam konteks politik yaitu politik dalam kerangka pikir Camus juga adalah relasi “ikut-mengambil-peranan”. Politik tidak ditentukan dari luar kehidupan bersama tidak didasari oleh konsep “politik yang memadai”, juga tidak oleh nilai-nilai selain keberhagaan manusia. Politik adalah usaha kongkret untuk mencegah agar tidak jatuh korban lebih banyak lagi usaha itu dilakukan di tataran yang mungkin dilakukan tanpa pretensi kemenangan absolut.
Etika dan Signifikasi Transenden Wajah Manusia
Etika dan Signifikasi Transenden Wajah Manusia, itulah tema etika politik yang diusung oleh Emmanuel Levinas, bagi Levinas pertemuan antar wajah atau relasi etis inilah yang menjadi dasar etika politiknya, khususnya lewat konsep “keadilan” dan “pihak ketiga”. Dalam pemikiran Levinas, wajah merupakan pemaknaan tanpa konteks karena hanya dengan wajah itu saja kita dapat memperoleh maknanya. Bagi Levinas, etika bukanlah pertama-tama aturan-aturan moral atau prinsip-prinsip hidup yang baik sebagaimana sering kita temukan dalam sejarah filsafat Barat.
Makna konsep ‘keadilan’ dalam etika politik Levinas, yakni bahwa keadilan merupakan pengakuan terhadap sebuah realitas plural, yakni komunitas politik, dan usaha memperjuangkannya merupakan ungkapan penghargaan dan tanggung jawab terhadap setiap anggota komunitas ini. Dalam konteks pengabdian terhadap keadilan inilah eksistensi negara dapat dibenarkan. Negara diperlukan agar keadilan dapat dicapai. Oleh karena itu, keadilan sebagaimana dipahami oleh Levinas harus dilihat bukan sebagai hasil kontrak sosial, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab terhadap semua orang dalam sebuah komunitas politik.
Politik yang etis bagi Levinas adalah pertemuan manusia dengan manusia lain yang tidak saling menundukan karena menyadari wajah yang menolak untuk ditundukan. Bagi Levinas, pertemuan antarwajah adalah relasi etis dan inilah yang menjadi dasar etika politiknya, khususnya lewat konsep “keadilan” dan “pihak ketiga”. Kehidupan bersama yang dibangun dengan relasi “ikut-mengambil-peranan”, dalam kerangka pikir Levinas, dapat kita pahami sebagai hubungan antar wajah dan dengan demikian merupakan manisfestasi tiba-tiba atas esensi atau makna realitas kehidupan bersama, yakni tanggungjawab terhadap “yang lain” dalam pluralitas.

Baca Lanjut Bro..

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Membangun Basis Massa Progresif[1]

Oleh : Taufik Nurrohim[2]
 
“Pasukan pemenang mendapatkan kemenanganya sebelum berangkat ke medan pertempuran” Sun Tzu
Pasang surut kaderisasi organisasi gerakan mahasiswa, yang termanifestasi dalam proses kaderisasi formal yang dilakukan terlihat sekali bahwa hampir setiap organasisasi kader mahasiswa di berbagai kota, selama ini sangat bergantung pada momentum yang ada. Setiap ada momentum orientasi mahasiswa baru biasanya kaderisasi akan berjalan, namun ketika tidak ada momentum maka kaderisasi akan kembali surut. Kemandegan ini disebabkan adalah kesalahan cara pandang gerakan dalam menempatkan prioritas kerja organisasi. Roda gerak sebuah organisasi haruslah meletakkan prioritas utamanya pada pembangunan basis, Seluruh aktifitas baik aktifitas sekretariat dan aktifitas panggung lainnya (diskusi besar/kecil dan bahkan aksi-aksi massa yang dilakukan) harus juga dimaknai sebagai pembangunan basis. Apabila pembangunan basis tidak dilakukan maka organisasi mudah sekali menjadi elitis, jauh dari massa dan jelas akan mudah mengalami kemandekan. Pembangunan basis adalah perwujudan konkret dari kepemimpinan dalam suatu wilayah kampus.
Jangan sekedar bergantung pada momentum
Momentum memang sangat membantu dalam memobilisir mahasiswa baru untuk direkrut menjadi anggota. Namun ketergantungan terhadap momentum sajayang ada hanya akan membuat kaderisasi menjadi statis dan mandeg. Hal ini tentu akan menghambat tercapainya perjuangan dalam gerakan mahasiswa. Oleh karena itu setiapmomentum yang adaharus dioptimalkan secara maksimal dengan langkah-langkah pengorganisiran massa yang disiplin, terencana, terarah dan jelas dalam pelaksanaanya.
Pengorganisiran massa agar menjadi kekuatan kaderisasi yang masiv adalah pekerjaan membangun massa sadar yang terorganisir dan berkekuatan. Makna massa sadar harus dilihat dalam dua pengertian: pertama, secara kognitif (kesadarannya) dan kedua, secara politik (tindakannya untuk berjuang). Massa sadar yang bertindak sebagai atau dalam pengertian kader, adalah massa maju yang berjuang membangkitkan dan berjuang bersama massa mahasiswa yang lain. Kader menjadi bagian dari setiap gerakan massa, memajukan politik perlawanan tersebut, dan terus memperluas/memperbanyak massa maju atau kader lainnya di antara massa berlawan tersebut. Di sinilah pengertian kader sesungguhnya, sebagai kader revolusioner, yaitu selalu tidak pernah dan tidak bisa dipisahkan dari perjuangan massa—sehingga berbeda dengan aktifis salon (menara gading) (yang tidak berada di tengah massa berjuang), ataupun pekerja sosial (yang tidak untuk memajukan massa (secara kognitif dan tindakan).
Pengertian kader dan pengorganisiran massa sebagaimana dijelaskan di atas adalah pengertian yang sekaligus menjawab pertanyaan: bagaimana kader tumbuh bersama kesadaran massa (yang masih masih reformis) dan memajukannya (menjadi revolusioner), sehingga batas kesadaran kader dengan kesadaran massa semakin menipis?
Oleh karenanya perjuangan kognitif (kesadaran) harus disatukan dengan tindakan perjuangannya/perwujudannya. Dan agar kesadaran lebih mudah dapat didorong menjadi tindakan perjuangannya/perwujudannya, maka kita bisa berangkat dari persoalan mendesak mahasiswa umumnya mahasiswa baru khususnya, dari tuntutan-tuntutan darurat mahasiswa itu, dari persoalan yang kasat mata dilihat dan dihadapi mahasiswa.
Kesadaran akan tuntutan reformis tersebut didorong (baca: diorganisir) menjadi tindakan (baca: mobilisasi) politik massa (yang meluas, membesar dan menguat) dalam memperjuangkan tuntutan-tuntuannya  (ekonomis sekalipun), berupa mobilisasi-mobilisasi massa yang menuntut.
Strategi dan Manajemen Pencitraan
Salah satu aspek penting dalam perjuangan PMII dalam memperjuangkan gagasan serta mendapatkan pengikut adalah dengan menggunakan cara – cara persuasi dan manajemen pencitraan yang baik. Dalam The Persuasive Campaign or Movement yang merupakan salah satu sub judul buku persuasion, reception and responsibility, Larson membagi model kampanye atau sosialisasi gagasan dalam tiga mode :
  1. Kampanye yang beorientasi terhadap isu poloitik
  2. Kampanye produk sebagaimana iklan sebuah produk
  3. Kampanye isu – isu ideologis atau perjuangan gerakan sosial. (Larson, 1986; 200 – 201)
Berkaca pada konsep ini, kampanye yang dilakukan PMII dalam memperjuangkan Islam Indonesia ala Ahlussunah wal jamaaah dan gerakan sosial diakar rumput bisa dikategorikan sebagai kampanye perjuangan ideologis.
Bagaimana Caranya?
         I.            Investigasi
Investigasi adalah pekerjaan pencarian data tentang karakter massa (baik seara ekonomi, politik maupun budaya), apakah itu secara teritorial ataupun secara sektoral.  Selain di teritori basis yang sudah kita organisir, sasaran/arah teritori atau sektor yang akan diinvestigasi diperoleh dari rekomendasi sahabat-sahabat yang bekerja dalam pekerjaan perluasan, dari analisa geopolitik dan sebagainya. Dua masalah yang hendak diketahui dalam investigasi adalah: 1) kebutuhan-kebutuhan/persoalan-persoalan ekonomi (atau yang lainnya) yang sangat mendesak bagi mahasiswa baru. Tujuannya agar mahasiswa baru mau masuk dalam mimbar/wadah kita. 2) mengetahui apakah mereka mau melawan/berjuang atau tidak atas persoalan mendesak tersebut; 3) mengapa mereka mau atau tidak mau berjuang untuk mengatasi persoalan-persoalannya sendiri.
      II.            Penyadaran
Tahap kedua adalah penyadaran atau sering disebut tahap agitasi-propaganda. Dalam program pengorganisiran massa, tahap kedua ini merupakan pekerjaan yang paling banyak porsi waktunya. Karena dalam tahap inilah kesimpulan investigasi diolah, agar diketahui akar masalah mengapa massa tak sanggup berjuang, bagaimana mengobatinya agar betul-betul sanggup memperjuangkan persoalannya, dan mengerti kemenangan sejati yang harus dicapai.
Tahapan Penyadaran :
a.       Penyadaran tentang tuntutan yang mendesak dan yang sejati
b.      Penyadaran tentang cara berjuang (dalam arah revolusi)

   III.            Mobilisasi
Pada tahap ini, kembali dijelaskan rencana mobilisasi (beserta rincian tuntutan, sasaran dan lain sebagainya) dan ditanyakan kesanggupannya untuk terlibat dalam organisasi pergerakan. Kesanggupan tersebut merupakan kreteria (tolak ukur) keberhasilan pekerjaan TAHAP I (INVESTIGASI) dan TAHAP II (PENYADARAN). Begitulah kita mengukur penerimaan massa terhadap rencana program pengorganisiran massa. Dalam TAHAP III (MOBILISASI), setiap harinya harus ada (organiser) yang selalu memobilisasi massa untuk ikut bergabung dalam organisasi pergerakan yakni PMII.
Dalam menjalankan proses pengorganisiran massa ini tidak boleh ada keterputusan antar suatu proses dengan proses yang lainnya, karena antara satu dengan yang lainnya saling terkait, dan proses tersebut akan berjalan terus menerus. Skema ini paling tidak memeberikan sedikit gambaran kepada kita bagaimana cara pengakaderan PMII.


[1] Papper ini disampaikan pada acara Dikusi strategi dan taktik kaderisasi PMII Komisariat UIN SGD Kota Bandung  pada tanggal 13 Agustus 2011
[2] Penulis adalah Ketua Bidang Internal PMII Komisariat UIN SGD Kota Bandung
Baca Lanjut Bro..

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Revolusi Harapan Erich Fromm


Judul : REVOLUSI HARAPAN
Penulis : Erich Fromm
Penerjemah : Kamdani
Penerbit : Pustaka Pelajar (anggota IKAPI) Yogyakarta
Tahun :1996
Tebal : x, 166 hlm. 21 cm.
Resensi Oleh : Taufik Nurrohim
Mencermati zaman modern yang makin makmur ini Erich Fromm melihat ada sesuatu yang tidak beres dengan kondisi masyarakat modern ini. Apa yang ia risaukan sebagai kekurangan zaman ini?
Dia melihat di tengah-tengah kita ada hantu, bukan hantu kuno seperti komunisme atau fasisme dan hantu ini tak kalah jahat dari kapitalisme, melainkan hantu baru : masyarakat yang dimesinkan secara total, dan hanya sedikit orang saja yang mampu melihatnya, tak lain : keterasingan manusia modern , manusia yang diperbudak menjadi mesin, (completely mechanized society) ; kehilangan otensitas pengalamanya sebagai manusia.
Inilah realitas sosial bawah sadar yang dihayati masyarakat modern (kapitalis), bahwa individu-individu kehilangan jatidirinya, dan akhirnya menjadi roda-roda gigi alias sekrup saja dari sebuah mesin raksasa; mendewakan produksi maksimal, konsumsi massal, dimana surga adalah hypermarket dan ingin meraup dan membawa pulang semua itu, memuaskan nafsu belanja sepuas-puasnya untuk menghindari kecemasan.
Hidup manusia kemudian hanyalah ikut dalam mesin yang memproduksi barang-barang secara massal dan mengkonsumsi terus-menerus. Bentuk masyarakat yang seperti ini, berikut nilai-nilai yang diusungnya sangatlah berbahaya, meski sudah dianggap normal saja. Maka revolusi harapan ia canangkan, revolusi menemukan kembali renaissans humanisme universal dan harapan menuju masyarakat yang meletakan teknologi dan ilmu pengetahuan sebagai pelayan manusia.
Menurut fromm, harapan itu bersifat paradoks. Harapan bukanlah menunggu secara pasif juga bukan pemaksaan yang tidak realistis terhadap keadaan yang tidak bisa dilakukan. Ia seperti harimau yang diringkus, yang akan melompat hanya jika waktunya untuk melompat tiba. Baik reformisme yang melelahkan maupun adventurisme psedo-radikal, itu bukan ungkapan dari harapan. Berharap berarti siap setiap saat terhadap apa yang belum lahir, dan tidak menjadi sedih jika tidak ada kelahiran dalam hidup kita.
Memang tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini terjadi  semacam tren  untuk mengembangkan teknologi, manusia berlomba-lomba  menciptakan  teknologi  yang lebih canggih. Dan hal itu bukan  aneh lagi karena memang pada hakekatnya, menurut Erich Fromm,  penulis buku ini, manusia adalah HOMO FABER, artinya makhluk yang membuat peralatan,  selain itu manusia juga sebagai HOMO ESPERANS,  yaitu manusia yang berharap, akan semakin memperkokoh potensi yang  ada pada manusia untuk berkreasi menciptakan peralatan-peralatan yang lebih canggih dan lebih praktis dalam memenuhi segala  kebutuhan hidupnya.
Disisi lain perkembangan teknologi ternyata juga  menimbulkan masalah  karena untuk mencapai tingkat canggih dan  praktis  yang diinginkan  itu, manusia bisa menghalalkan segala cara dan tidak lagi  mengindahkan  nilai-nilai, norma-norma, dan  etika,  bahkan sifat-sifat manusia sebagai manusia itu sendiri.
Salah  satu  aspek  yang dominan untuk  mewujudkan  hal  ini, adalah  kontrol terhadap sistem manusia itu sendiri. Erich  Fromm menyatakan  sistem sosial dewasa ini akan dapat  dipahami dengan baik  hanya  jika seseorang menghubungkan sistem  manusia  dengan sistem  secara keseluruhan. Jadi harus ada perubahan atas  segala sistem  yang  ada  saat ini, baik itu  sistem politik,  ekonomi, maupun  sosial.  Namun,  dia  tidak  menyetujui  adanya  revolusi (kekerasan) sebab kekerasan adalah paradoks yang menakjubkan  dan membingungkan  karena dalam suasana dimana  kekerasan  kehilangan rasionalitasnya,  ia  malah dipandang  sebagai metode  pemecahan masalah.
Lantas  Fromm  mengemukakan pendapatnya  bahwa  "dehumanisasi Teknologi" lebih layak diungkapkan sepenuhnya hanya dalam gerakan yang  tidak  birokratis,  tidak  berhubungan dengan  mesin-mesin politik  tapi  merupakan hasil dari usaha-usaha  yang  aktif  dan imajinatif dari orang yang mempunyai kesamaan tujuan. Erich Fromm mengusulkan  agar jenis gerakan ini dibagi menjadi 2 level  yaitu Grup (besar)  dan  Klub (lebih  kecil). Pada  Grup,  arah  geraknya menuju  ke  transformasi personal dari pribadi yang  terasing  ke pribadi  yang  berpartisipasi secara aktif. Dan  hubungan  antara Klub-Klub,  fromm menyatakan bahwa tidak ada hubungan  birokratis formal kecuali bahwa Klub-Klub bisa memiliki sumber-sumber informasi yang dikemukakan oleh publikasi yang mengabdi pada Klub-Klub tersebut.
Tidak berlebihan jika Fromm menjabarkan usulannya itu  secara panjang  lebar  sebab dia tetap mengacu pada semua  ide-ide  yang mempengaruhi pemikirannya, sehingga terkadang bahasannya  menjadi meloncat-loncat  dari sisi psikologi ke sisi sosiologi dan  politik. Sebuah buku yang luar biasa untuk merefleksikan diri di zaman modern yang serba absurd ini.
Baca Lanjut Bro..

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

BATASAN KEPRIBADIAN

Jumat, 25 Februari 2011

Oleh : Taufik Nurrohim[1]
            Kata personality dalam bahasa inggris berasal dari bahasa Yunani-kuno prosopon atau persona, yang artinya “topeng” yang biasa dipakai artis dalam teater. Para artis itu bertingkah laku sesuai dengan ekspresi topeng itu mewakili ciri kepribadian tertentu. Jadi konsep awal dari pengertian personality (dari masyarakat awam) adalah tingkah laku yang ditampakan ke lingkungan sosial – kesan mengenai diri yang diinginkan agar dapat ditangkapoleh lingkungan sosial. Ketika personality menjadi istilah ilmiah pengertianya berkembang menjadi lebih bersifat internal, sesuatu yang relatif permanen, menuntun, mengarahkan, dan mengorganisir aktivitas manusia. Ada beberapa kata atau istilah yang oleh masyarakat diperlukan sebagai sinonim kata personality, namun ketika istilah-istilah itu dipakai dalam teori psikologi kepribadian diberi makna yang berbeda-beda. Istilah yang berdekatan maknanya itu antaralain:
1.      Personality (kepribdian): penggambaran tingkah laku secara deskriptif tanpa memberi nilai (devaluative).
2.      Character (karakter): penggambaran tingkah laku dengan menonjolkan nilai (benar-salah, baik-buruk) baik secara eksplisit maupun implisit.
3.      Disposition (watak): karakter yang telah lama dimiliki dan sampai sekarang belum berubah.
4.      Temperamen (temperamen): kepribadian yang berkaitan erat dengan determinan biologik atau fisiologik, disposisi hereditas.
5.      Traits (sifat): respon yng senada (sama) terhadap sekelompok stimuli yang mirip, berlangsung dalam kurun waktu yang (relatif) lama.
6.      Type-attribute (ciri):mirip dengan sifat, namun dalam kelompok stimuli yang lebih terbatas.
7.      Habit: (kebiasaan) respon yang sama cenderung berulang untuk stimulus yang sama pula.
Sampai sekarang, masih belum ada batasan formal personality yang mendapat pengakuan atau kesepakatan luas dilingkungan ahli kepribadian. Variasi definisi itu bukan sekedar variasi cara merangkum pengertian: model definisi omnibus, integratif, subtantif, atau operasional, tetapi memang definisi itu membatasi konsep yang berbeda. Masing-masing pakar kepribadian membuat definisi sendiri-sendiri sesuai dengan paradigma yang mereka yakini dan fokus analisis dari teori yang mereka kembangkan. Berikut beberapa contoh definisi kepribadian itu:
1.      Kepribadian adalah nilai sebagai stimulus sosial, kemampuan menampilkan diri secara mengesankan (Hilgard & Marquis)
2.      Kepribadian adalah kehidupan seseorang secara keseluruhan, individual, unik, usaha mencapai tujuan, kemampuanya bertahan dan membuka diri, kemampuan memperoleh pengalaman (Stern).
3.      Kepribadian adalah organisasi dinamik dalam sistem psikofisiologik seseorang yang menentukan model penyesuaianya yangunik dengan lingkunganya (Allport).
4.      Kepribadian adalah pola trait-trait yang unik dari seseorang (Guiford).
5.      Kepribadian adalah seluruh karakteristik seseorang atau sifat umum banyak orang yang mengakibatkan pola yang menetap dalam merespon suatu situasi (Pervin)
6.      Kepribadian adalah seperangkat karakteristik dan kecenderungan yang stabil, yang menetukan keumuman dan perbedaan tingkah laku psikologik (berfikir, merasa dan gerakan) dari seseorang dalam waktu yang panjang dan tidak dapat difahami secara sederhana sebagai hasil dari tekanan sosial dan tekanan biologik saat itu (Maddy dan Burt).
7.      Kepribadian adalah suatu lembaga yang mengatur organ tubuh, yang sejak lahir sampai mati tidak pernah berhenti terlibat dalam pengubahan kegiatan fungsional (Murray).
8.      Kepribadian adalah pola khas dari fikiran, perasaan, dan tingkah laku yang membedakan orang satu dengan yang lain dan tidak berubah lintas waktu dan situasi (Phares).
Jelas, masing-masing definisi mencoba menonjolkan aspek yang berbeda-beda, dan disusun untuk menjawab tantangan permasalahan yang berbeda-beda. Menggabungkan definisi-definisi itu menjadi satu, yang berarti menggabungkan semua teori psikologi kepribadian mungkin akan menjadi usaha yang sangat melelahkan, disamping juga tidak ada gunanya karena teori itu justru akan kehilangan nilai aplikasi pragmatisnya. Lebih menguntungkan memahami berbagai teori dan memilih teori yang tepat untuk diterapkan pada masalah yang tepat, di samping tetap memakai teori-teori yang lain sebagai pembanding sehingga keputusan profesional yang diambil seorang psikolog dapat lebih dipertanggung jawabkan. Namun sesungguhnya dari berbagai definisi itu, ada lima persamaan yang menjadi ciri bahwa definisi itu adalah definisi kepribadian, sebagai berikut:
1.      Kepribadian bersifat umum: kepribadian menunjuk kepada sifat umum seseorang – fikiran, kegiatan, dan perasaan – yang berpengaruh secara sistemik terhadap keseluruhan tingkahlakunya.
2.      Kepribadian bersifat khas: Kepribadian dipakai untuk menjelaskan sifat individu yang membedakan dia dan orang lain, semacam tanda tangan atau sidik jari psikologik, bagaimana individu berbeda dengan orang lain.
3.      Kepribadian berjangka lama: Kepribadian dipakai untuk menggambarkan sifat individu yang awet, tidak mudah berubah sepanjang hayat. Kalau terjadi perubahan biasanya bersifat bertahap atau akibat merespon sesuatu kejadian yang luar biasa.
4.      Kepribadian bersifat kesatuan: Kepribadian dipakai untuk memandang diri sebagai unit tunggal, struktur atau organisasi internal hipotetik yang membentuk kesatuan dan konsisten.
5.      Kepribadian bisa berfungsi baik atau berfungsi buruk: Kepribadian adalah cara bagaimana orang berada di dunia. Apakah dia tampil dalam tampilan yang baik, kepribadianya sehat atau kuat? Atau tampil sebagai burung yang lumpuh? Yang berarti kepribadianya menyimpang atau lemah? Ciri kepribadian sering dipakai untuk menjelaskan bagaimana dan mengapa orang senang dan mengapa susah, berhasil atau gagal, berfungsi penuh atau berfungsi sekedarnya.
Referensi:
Alwisol (2004). Psikologi Kepribadian. Malang: Penerbit UMM Press


[1] Penulis adalah mahasiswa psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung angkatan 2008
Baca Lanjut Bro..

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

FRUSTRASI DAN REVOLUSI :

Selasa, 22 Februari 2011

Buah kebijakan mengabaikan psikologi rakyat
Oleh : Taufik Nurrohim[1]
Hampir sebelas tahun era reformasi kita lalui, tapi geliat ekonomi masih biasa-biasa saja. Sudah lima presiden kita pilih, bahkan yang terakhir adalah presiden yang menang dalam pemilu dua kali berturut-turut, tapi kesejahteraan dan keadilan sosial tetap, saja menjadi barang langka. Usaha pemulihan stabilitas ekonomi dan politik pun dilakukan. Kemudian, atas nama keseimbangan ekonomi makro, macam-macam subsidi dicabut secara bertahap untuk kemudian pasarlah yang akan menentukan harga. Rakyat pun dengan Serta merta merasakan akibatnya. Harga­ harga barang merangkak naik, biaya transport naik berlipat-lipat, sementara penghasilan tidak mengalami kenaikan yang cukup berarti. Pada saat itu rakyat dituntut untuk bersabar dan bersabar. Yang kita lihat, rakyat memang cukup bersabar, tapi sampai kapan kesabaran itu akan bertahan ?
Pertanyaan ini penting karena sepertinya faktor psikologi ini sama sekali tidak menjadi salah satu pertimbangan setiap kali suatu kebijakan ditetapkan. Pertimbangan ekonomi dan politik selalu mengatasi pertimbangan psikologis. Kekecewaan yang berulangkali rakyat alami tidak dianggap sebagai sesuatu yang penting, bahkan mungkin berbahaya. Kekecewaan rakyat yang semestinya di urusi sedemikian rupa, yang terjadi justru sebaliknya. Kekecewaan yang selama ini dirasakan rakyat, justru diperlebar oleh kebijakan­ kebijakan yang menantang amarah rakyat, atau oleh sikap dan perilaku sebagian elit politik yang jauh dari santun dan sederhana.
Bagaimana tidak memuakkan, di satu sisi pemerintah menjual asset yang dalam jangka panjang akan sangat berharga, sementara disisi lain para koruptor yang mempunyai kontribusi signifikan menyengsarakan bangsa ini justru akan mendapatkan release & discharge. Bagaimana tidak miris, di satu sisi macam-macam subsidi dihilangkan, tapi para elit politik menunjukkan sikap dan perilaku hura-hura. Bagaimana tidak lucu, pemimpin yang sudah tidak dikehendaki oleh rakyat atau pejabat yang jelas-jelas telah melakukan kebohongan publik dibiarkan begitu saja, atau malah diberi kembali jabatan yang sebenarnya untuk orang-orang terhormat.
Sampai saat ini, rakyat benar-benar telah dibuat frustrasi berulang kali. Anehnya, frustrasi inilah yang tidak dipahami, atau dipahami tapi dianggap tidak berarti. Mungkin betul bahwa fondasi ekonomi harus dipersiapkan sedemikian rupa. Beban subsidi yang selama ini mengambil bagian anggaran yang cukup signifikan mungkin memang harus dihilangkan. Akan tetapi, apa manfaatnya jika atas nama keseimbangan ekonomi makro atau kuatnya fondasi perekonomian nasional, membuat rakyat frustrasi, yang pada akhirnya akan mengarahkan pada sikap dan perilaku yang kontra produktif.
Reaksi masyarakat terhadap kekecewaan yang dirasakan mungkin beragam tergantung dari intesitas frustrasi yang dirasakan dan kondisi sosial, ekonomi, serta politik masyarakat tersebut. Pada satu rezim, ada masyarakat yang mencoba mengatasi frustrasi dengan apatisme dan menghindari kontak dengan objek yang diklaim sebagai sumber frustrasi. Kalau sudah demikian, jangan berharap, partisipasi politik yang merupakan caranya proyek demokratisasi akan tampak ke permukaan. Pada rezim yang lain, ada masyarakat yang menunjukkan perilaku agresif kepada objek yang diklaim sebagai sumber frustrasi atau kepada objek yang dianggap tidak mengandung resiko terlalu besar. Berkowitz, mengatakan perilaku agresi apapun selalu bersumber dari frustrasi.
Misalnya saja, sebagian masyarakat menjadi begitu curiga dan sinis terhadap setiap apapun yang berhubungan dengan politik, tidak lagi perduli dan apatis dengan apa-apa yang menimpa bangsa ini, bosan dan jengkel mendengar berita-berita sekitar konfliks antar elit politik, tidak bisa lagi mempercayai kata - kata manis elit politik, menjadi jera untuk meneriakan protes atau sekedar mengingatkan kebijakan pemerintah yang dirasa membebani mereka, atau bahkan tidak menggunakan hak pilihnya ketika masa pemilihan umum nanti tiba. Kita pun menyaksikan bagaimana masyarakat menjadi sangat rentan tersulut untuk terlibat dalam setiap tindak kekerasan. Ada polisi yang dipukuli masa hanya karena diteriaki maling, ada pencuri sepeda motor yang disiksa dan dibakar hidup-hidup, ada aparat berkelahi dengan aparat yang lainnya, ada bom meledak membunuh banyak orang, ada, perkelahian antar kampung, ada aksi tipu-tipu, dan banyak kekerasan karena berbeda paham agama dan seterusnya.
Setiap ada peluang, dimana, identitas diri menjadi kabur, maka pada, saat itu frustrasi sepertinya mendapatkan jalan untuk muncul dalam beragam bentuk kekerasan. Jika sedikit menengok ke belakang, kita akan teringat peristiwa mengerikan, Mei 1998. Banyak orang meninggal bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai penjarah. Ada wanita-wanita diperkosa bukan karena libido seksual tak terkendali, melainkan karena, sinisme dan prasangka. Gedung-gedung dibakar dengan api kemarahan massa yang spontan dan tidak tertahankan. Peristiwa itu tentu sangat luar biasa, dan seharusnya menjadi pelajaran bagi siapapun, bahwa frustrasi yang berkepanjangan selalu berakhir dengan. petaka.
Peristiwa Mei 1998 bukan tanpa sebab. Peristiwa tersebut merupakah buah dari kekecewaan sistematis masyarakat yang diciptakan oleh rejim suharto. Kekecewaan tersebut terakumulasi sampai memenuhi batas kesabaran, dan ketika situasi krisis ekonomi berada di hadapan mata serta segala sesuatunya memungkinkan, maka kekecewaan itu meledak dengan membabi buta.
Seharusnya keadaan ini menjadi cermin bagi pemerintahan manapun. Bahwa frustrasi rakyat bukan perkara sepele. Psikologi rakyat jangan sampai dikorbankan demi perhitungan-perhitungan ekonomis, atau agenda politis tertentu. Apapun alasannya, rakyat jangan dikondisikan sedemikian rupa sehingga terpenjara dalam frustrasi. Jika frustrasi itu membesar dan meluas, bersamaan dengan itu tersedia faktor pemicu dan situasi serta kondisinya memungkinkan, bukan tidak mungkin peristiwa Mei 1998 akan terulang kembali tentunya dengan skala lebih besar, dan itu adalah revolusi.

[1] Penulis adalah mahasiswa Psikologi UIN SGD angkatan 2008 dan Aktivis PMII Komisariat UIN SGD Cabang Kota Bandung
Baca Lanjut Bro..

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer